Entri Populer

Entri Populer

Rabu, 14 November 2012

Cerita Horor "Penunggu bis berdarah

Cerita Horor "Penunggu bis berdarah" (kisah nyata)


Pada suatu malam ada seorang pemuda (sebut saja namanya Budi) sedang menempuh perjalanan dari Surabaya ke Jakarta dengan menggunakan bis malam. Di tengah perjalanan, saat bis tersebut berhenti di sebuah terminal, seorang kakek tua naik dan menawarkan buku-buku bacaan pada semua penumpang.
Sesampainya di kursi Budi bapak tua itu pun menawarkan dagangannya
“Bukunya mas? Ada macam-macam nih. Buku silat, cinta-cintaan, agama, dan lain-lain”, ujar sang kakek dengan logat khas jawa tengah.
Budi yang kebetulan sedang tidak bisa tidur pun tertarik. “Ada buku misteri atau horor gak kek?”
“Oh suka cerita horor yah?”, jawab si kakek. “Kebetulan ada sisa satu mas. ini cerita dan pengalaman nyata, kata teman saya yang pernah baca, katanya ceritanya bagus mas dan memang benar-benar horor, karena kebetulan diangkat dari kisah nyata dan pengalaman orang. Ceritanya tentang bis yang ditinggali banyak Arwah penasaran. Judulnya “PENUNGGU BIS BERDARAH”. Serem banget deh pokoknya ..!!”
“Boleh juga tuh. Berapa harganya?”
“seratus ribu, nak”
“Walah, mahal bener harganya, kek”.
“Ya namanya juga buku bagus. Kata orang sih Best seller. Semua yang baca buku ini kabarnya sampe syok loh waktu baca endingnya”, si kakek berpromosi ala salesman.
"Boleh kurang?"
"Buat penglaris sembilan puluh deh mas"
Budi pun akhirnya mengalah, karena memang butuh sekali buku buat mengusir rasa kantuknya. Uang sembilan puluh ribu berpindah tangan.
Entah kenapa, tepat pada saat ia menyerahkan uang tersebut ke kakek tua, tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar. Angin pun terasa mulai bertiup kencang. Si kakek buru-buru melangkah turun ke bis, namun tiba-tiba berhenti dan menolehkan wajahnya pelan-pelan ke arah Budi.
“Mas”, ujarnya lirih, “apa pun yang terjadi, harap jangan buka halaman terakhir ya. Ingat, apapun yang terjadi. Kalau tidak nanti kamu akan menyesal dan saya tidak bisa bertanggung jawab.”
Jantung Budi berdegup kencang. Saking takutnya, ia sampai tidak mampu menganggukkan kepala hingga akhirnya si kakek turun dari bis dan menghilang ditelan kegelapan.
Singkat cerita, dua jam kemudian, sekitar pukul satu malam, Budi selesai membaca seluruh buku tersebut. Kecuali halaman terakhir tentunya. Dan memang benar seperti yang dikatakan si kakek penjual, buku itu benar-benar menegangkan dan menyeramkan.
Di luar bis yang melaju kencang, hujan turun dengan derasnya. Kilat menyambar bergantian dan terkadang terdengar suara guruh yang menggelegar. Sejenak Budi melihat berkeliling dan ternyata susana mendadak hening, semua penumpang nampaknya sudah terlelap. Bulu kuduknya terasa merinding.
“Baca halaman terakhirnya gak yah?”, pikir Budi bimbang.
Antara penasaran dengan rasa takut berbaur menjadi satu. Di luar jendela malam tampak makin gelap. “Ah sudahlah, sekalian aja. Nanggung!”
Dengan tangan gemetar ia pun membuka halaman terakhir dari buku tersebut secara perlahan … Dan akhirnya tampak sebuah lembaran kosong dengan sepotong label di bagian pojok kanan atas. Sambil menelan ludah, Budi membaca huruf demi huruf yang tercantum:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar